Kamis, 11 April 2013

Menikmati Hasil Keringat Sendiri

Saya baru hampir genap satu setengah tahun ketika resmi sebagai dokter. Ya, banyak pekerjaan yang saya alami, mulai dari editor kedokteran, dokter umum untuk bakti sosial, sampai dokter umum di Puskesmas. Di sinilah menempa saya untuk bekerja dan saya pun menghasilkan uang dengan keringat saya sendiri.

Memang ini bukan kali pertama saya. Saya masih ingat dulu saya pernah mendapatkan honorarium ketika menulis walkthrough untuk game Final Fantasy VIII dan dimuat di Final Fantasy World dari HotGame Gramedia. Saat itu seingat saya, saya masih siswa SMP (tahun 2000 atau 2001) dan sekitar satu atau dua ratus ribu rupiah jumlah honor saya. Kalau dipikir-pikir, cukup besar juga ya untuk saat itu.

Ada enaknya sebenarnya dalam mendapatkan uang untuk diri sendiri. Pertama adalah sebuah kebanggaan hidup mandiri. Paling tidak saya tidak perlu meminta kepada orang tua untuk membeli barang sehar-hari. Kedua, saya jadi mengerti susahnya mengumpulkan rupiah demi rupiah. Bukannya saya mata duitan, tetapi toh setiap orang perlu uang untuk hidup, bukan demikian?

Saya pun merasa bangga dengan berbagai barang-barang yang saya beli dengan keringat saya sendiri seperti iPad dan PlayStation 3. Ya, inilah hasil keringat sendiri! Namun saya juga tidak boleh lupa menabung, paling tidak untuk keluarga kecil saya kelak. Semoga cukup ya :)



Share/Bookmark

Kamis, 04 April 2013

Terima Kasih Menjalin

Hari Senin, 1 April 2013 adalah salah satu hari terbaikku. Hari terbaik di dalam perjalanan saya sebagai dokter. Hari itu adalah hari perpisahan antara saya dengan staf Puskesmas Menjalin yang telah menemani saya selama 1 tahun ini.

 

Label terbaik ini bukannya karena saya suka perpisahan. Secara pribadi yang lebih cenderung menyukai zona nyaman, saya tidak suka dengan perpisahan. Namun suatu hal yang tak dapat terpungkiri adalah hidup harus jalan terus. Jalan ke depan.

 

Saya meninggalkan Menjalin, yang terutama adalah habisnya masa SK saya untuk diangkat sebagai dokter PTT di Kabupaten Landak. Kemudian saya pun memiliki rencana untuk bekerja di rumah sakit dan ingin melanjutkan studi lagi. Walaupun sebenarnya masih ada kesempatan bagi saya untuk mengabdi di Landak selama dua tahun ke depan. Namun jika adapun saya tak akan mengambilnya, karena saya tidak mungkin di Menjalin lagi. Saya sudah terlanjur jatih cinta dengan Menjalin.

 

Mungkin Anda terheran-heran ada apa dengan Menjalin? Ya saya sudah terlanjur cocok dengan Bumi Samabue ini. Terlanjur cocok dengan orang-orang di dalamnya. Saya sudah kepalang tanggung. Sikap masyarakatnya, kondisi kehidupannya sudah sesuai dengan apa yang diharapkan.

 

Ya, staf-stafnya amat ramah, dalam arti yang sesungguhnya. Saya bersyukur, karena saya pun mendengar ada kawan-kawan saya lain di tempat lainnya bahkan seringkali tak harmonis. Saya suka lingkungan kerja yang tetap humoris, paling tidak untuk menyegarkan pekerjaan dokter yang sungguh menaikkan tensi. Staf-staf seperti Om Saibu, Pak Didy, Bang Uut, Kak Osik, Kak Hatenah Kak Rika, pendatang baru Bang Ason yang bisa membuat rahang Anda pegal. Dan saya suka staf yang suka "wisata kuliner" seperti Trio Macan, Kak Agnes, Kak Ola, Bang Agus, Kak Wila sang pecinta kuning. Kemudian Kak Banyu yang suka membagi kuenya, Kak Sri yang menjual kuenya. Kak Nia dan Mak Dela yang juga tak jarang berbagi. Trio Macan juga menjadi kawan merujak dan gorengan serta apam pinang.

 

Selain itu mereka pun menghormati satu sama lain dan tak segan belajar satu sama lain, dan bahkan saya pun tak canggung untuk belajar dari mereka juga. Kak Dewi dan Kak Emi yang banyak pengalaman. Atau sebaliknya saya pun sering berbagi dan mengajarkan yang saya bisa ke Dekri dan Bang Ryan, serta Bang Agus dan perawat magang lainnya.

 

Saya pun sering dibawa jalan-jalan, paling tidak karena saya tidak pandai naik motor. Diajak ke Rees oleh Bang Agus dan Kak Fina, ke Lamoanak bersama Bang Eko, keliling Menjalin, Mempawah, dan Serukam dengan Mas Pur. Saya juga ke Tikalong dengan keluarga Pak Uwi, dan perjalanan terakhir tak terlupakan berjam-jam berdiri dengan Kak Ester di bus Yosua.

 

Saya juga masih ingat dengan pasien-pasien saya, Pak Sakiman dari Lamoanak, Pak Alex yang sering meminta saya tensi ketika ia menumpang lewat di Puskesmas, Nenek Nulia, Pak Itop, Ibu Raani, We' Indra. Saya akan merindukan ketika bercengkerama dengan mereka di poliklinik atau di zaal rawat inap. Saya juga merindukan bercengkerama dengan perawat di ruang jaga.

 

Suatu hal yang membahagiakan juga bahwa saya dapat diterima oleh masyarakat tanpa kekurangan suatu apapun. Dan saya amat senang dapat menyumbang sedikit untuk tanah Menjalin, walau tak seberapa. Seperti gajah meninggalkan gadingnya, saya bersyukur dan bahagia dapat meninggalkan nama yang cukup baik sampai saya memparipurnakan tugas.

 

Kini saya harus terus melangkah ke depan, walau kabut masih di depan mata.

 

Terima kasih Menjalin.

 

"Ame lupa ana bamain agi ka Manyalitn boh", kata Bang Ryan.

"Auk!", jawab saya.

 

Di dalam GA503, perjalanan kembali ke Jakarta.


Share/Bookmark

Selasa, 02 April 2013

Tak Menyesal

Aku tak pernah menyesal untuk membuta
Aku tak pernah menyesal untuk berjalan dengan waktu
Aku tak pernah menyesal untuk menunggu hadirmu lagi
Aku tak pernah menyesal berdiam di dalam derasnya hujan
Aku tak pernah menyesal untuk menangis karenamu
Aku tak pernah menyesal untuk terus memandang buah tanganmu yang dulu
Aku tak pernah menyesal untuk lelah melihatmu jatuh hati
Aku tak pernah menyesal ketika kita memutuskan berkawan biasa

Kuserahkan semua padamu
Karena aku sadari ini tak mungkin hanya sebelah tangan

Biarlah aku pergi jika kau mau
Biarlah aku pergi jika dia memang lebih baik
Biarlah aku pergi jika aku mengganggu mu
Biarlah aku pergi jika itu semua yang terbaik bagimu
Biarlah aku pergi jika itu dapat mengembalikan lagi tawamu
Biarlah aku pergi dan aku tak akan menyesal

Pagi di Siantan, 1 April 2013
Setelah kau diam dalam kata


Share/Bookmark

Rabu, 27 Maret 2013

"Dokter, Tidak Akan Marah Kok"

Ada cerita unik, ketika saya bertemu dengan seorang ibu di rawat inap Puskesmas.

Saya: "Malam bu. Gajah, kitak agik ampus ka Puskesmas. Ada ahe nian?" (Malam bu. Ya ampun, Anda lagi datang ke Puskesmas. Ada apa ini?)

Ibu: "Auk Pak Dokter a. Itulah kami punya kaluarga ayak, manyak bapage. Tumare koa pak uda ku, nang ampeatn koa ipar ku" (Iya Pak Dokter. Itulah kami keluarga besar, banyak saudara. Kemarin itu om saya, sekarang ipar saya.)

Saya: "Ooo... Lekoa." (Oooo... Begitu.)

Lalu saya bersama ia masuk bersama Om Saibu, staf Puskesmas yang sedang dinas sore. Singkat cerita kami banyak berbicara, terutama tentang "pak uda"-nya yang sakit 2 hari yang lalu. Pak uda-nya ini dirawat di Puskesmas dan kemudian dirujuk ke Pontianak untuk mendapat perawatan lebih lanjut.

Namun, Bapak ini sebelum dirujuk sempat membuat "heboh" Puskesmas. Sebenarnya ia sudah mau dibawa rujuk ke Pontianak pada pukul 22:00 malam setelah semua keluarga dari Pontianak bersepakat. Namun pasien tersebut berkata lain dan keras kepala tidak mau dibawa, dan saya pun berusaha membujuk Bapak itu juga sampai ia berbicara kalimat pamungkasnya dengan suara agak tinggi, "Ba'i aku diincakng ka Pontianak. Parasaatnku tak nyaman, bisa calaka kita." (Tak mau saya dibawa ke Pontianak. Perasaanku tidak enak, bisa celaka kita.") Ya ini adalah kalimat pamungkas seperti yang saya katakan, tidak ada yang berani memaksa lagi jika ada yang berkata demikian. Hingga akhirnya keadaan memburuk dan pasien meminta sendiri untuk merujuk lagi pukul 03:00 pagi.

Bagaimana perasaan saya yang dibangunkan dua kali "hanya" untuk menyetujui rujukan di tengah subuh dan mimpi indah karena pasien yang tampaknya "keras kepala"? Ya seketika mungkin rasa dongkol, tapi saya selalu merasa tak elok mengungkapkannya.

Si ibu yang saya bertemu pada awal tulisan ini berkata ternyata ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya, bisa dikatakan konflik keluarga baik vertikal dan horizontal. Mungkin sebagai suatu mekanisme defensi secara emosional dari si Bapak ini, ia berbuat demikian, berbuat menolak pendapat-pendapat keluarganya.

Ibu itu mengatakan sesuatu yang menyentuh hati, "Oh ya Pak Dokter. Bapak titip pesan, ketika saya bertemu dengan Pak Dokter. Bapak minta maaf karena sudah bera (marah) ke Pak Dokter. Dia tidak bermaksud demikian. Saya katakan padanya, Dokter tidak akan marah." Di satu sisi saya tersentuh dan menjadi teringat akan sang Bapak, dan kedua ada pesan eksplisit dari si ibu, "Dokter tidak akan marah". Ya ada suatu ekspektasi atau harapan dari pasien.

Dokter yang pemarah pun pernah saya temui sejak dari pendidikan sampai sekarang. Banyak dokter yang kadang tersulut emosi ketika beban pikiran begitu berat dan belum lagi masalah lainnya selain masalah pasien. Pekerjaan dokter memang riskan untuk mengalami tekanan mental yang luar biasa. Tapi pasien, perawat, rekan kerja pun tak ada yang mau kena omelan bukan? Manusia setengah dewa ini, memang digadang-gadang menjadi seseorang yang welas kasih dan lembut.

Ya, saya pun agak menyesali sikap dongkol saya subuh itu setelah mendengar cerita itu, karena saya sudah keburu marah dan ternyata tidak ada maksud Bapak itu dengan sengaja. Dia hanya perlu waktu untuk mengungkapkan kekecewaannha pada keluarganya itu.

Saya pun perlu terus belajar mengelola emosi. Walau demikian, pasien tetap sesama. Kalau Anda menjadi pasien, maukah Anda atau bagaimana perasaan Anda jika dokter Anda marah atau paling tidak, jutek? Tentu tidak ada yang mau. Aturan emas lagi-lagi berlaku.

Pasien pun harus mengelola emosinya juga, walaupun demikian, pendapat saya, posisi dokterlah yang harus lebih legawa untuk menahan emosinya. Jika tidak ada satu pihak yang legawa atau tepa selira, maka timbullah masalah lainnya yang tak kunjung padam. Setuju?

 


Share/Bookmark

Minggu, 24 Maret 2013

PTT: Suatu Kebersyukuran

Ketika saya mengetik ini, saya berada di hari ke-7 sebelum masa bakti PTT saya berakhir sesuai dengan Surat Keputusan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Suatu hal yang tak sangka saya bisa jalani sejauh ini. Suatu hal yang menjawab keraguan saya 358 hari yang lalu.

Dokter PTT Pusat Kabupaten Landak, TMT 2012

Pada saat pendaftaran lamaran kerja sebagai dokter PTT dan bersaing dengan ribuan dokter pelamar lainnya, tujuan saya hanya dua. Satu untuk memparipurnakan Surat Masa Bakti, dan kedua, tampaknya belum afdol menjadi dokter di Indonesia, kalau tidak menjalani PTT. Ya, sebagai dokter yang ditempatkan ke daerah terpencil adalah pengalaman tersendiri, yang bahkan tak pernah akan dialami oleh dokter di Singapura sekalipun!

Awal Mula PTT

Puskesmas Menjalin

Saya dulu melamar sebagai dokter umum di Kabupaten Landak dan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat yang menjadi provinsi kampung halamanku. Keduanya saya mencentang dengan kriteria terpencil. Terus terang, saya harap-harap cemas. Karena tidak semua pelamar yang jumlahnya ribuan ini bisa diterima, dan saya bersyukur ketika nama saya tercantum di website biro kepegawaian Kemenkes untuk bertugas di Kabupaten Landak selama 1 tahun.

Kabupaten Landak ini memang memiliki hubungan batin dengan saya, karena keluarga ayah saya kebanyakan lahir di Kecamatan Ngabang, yang kini menjadi ibukota kabupaten. Saya masih tidak tahu sama sekali di mana saya akan ditempatkan, sampai beberapa jam saya tiba di Ngabang untuk mendapat surat tugas dari dinas kesehatan kabupaten. Saya awalnya ditempatkan di Kecamatan Mandor yang sering saya lewati kalau menuju Ngabang, namun saya diminta bertukar untuk ditempatkan di Kecamatan Menjalin, suatu tempat yang tidak pernah saya tahu sebelumnya, yang suasananya lebih terpencil walau satu kriterianya sama. Karena saya dokter laki-laki, saya mencoba menjawab tantangan. Walaupun demikian, petualangan nan indah ini dimulai dari Menjalin.

Kesan Pertama Menjalin

Menjalin? Nama yang unik. Terus terang, selama hidup saya di Kalimantan Barat sampai saya SMP kelas 3, saya belum pernah mendengarnya. Dan saya tibalah di kecamatan ini bersama petugas yang mengantarkan saya, setelah mengantar rekan saya dari Mandor. Saya melewati jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu kendaraan di sore hari dan mati lampu pula. Jalan ini kelak saya sadari adalah jalur Sembora, salah satu jalan pintas dari Mandor menuju Menjalin melalui Toho.

Saya tiba si kecamatan nan gelap gulita (saat itu sedang mati lampu!), sinyal handphone yang datang dan pergi sesuka hatinya. Saya melihat rumah dinas yang akan saya tempati dalam terang senter dan lilin. Saya masih ingat, saya disambut oleh Bu Nia (perawat yang tinggal di kompleks Puskesmas) dan Kak Agnes (Bidan yang sementara menempati rumah dinas dokter, karena dokter sebelumnya perempuan). Karena saat itu saya masih belum bisa menempati rumah karena belum dibersihkan, saya menginap sementara di rumah Pak Thomas Apon, Kepala Puskesmas saat itu.

Saya saat itu termenung, apakah ini tempat saya? Tahankah saya? Apalagi lampu saat itu belum menyala sampai pukul 22:00. Sinyal handphone pun tampak hilir mudik saat saya mau mengabarkan kedua orangtua di Pontianak. Saya tak mungkin menangis, inilah tantangan, pikirku.

Keesokan harinya, Rabu, satu hari sebelum Kamis Putih. Saya diantar Pak Mega (Nama lain Pak Thomas, karena di sini lebih sering memanggil nama Bapak/Ibu dengan nama anak pertamanya), menuju Puskesmas yang kemarin tampak temaram. Dan kejutannya, tidak seburuk yang saya sangka. Saya pertama kali bertemu Bu Yones (Mak Dela), Bidan Morni (Mak Ryan), dan staf lainnya. Masih sedikit kagok-kagok, karena pada dasarnya saya pribadi yang perlu waktu untuk beradaptasi. Dan saya pun kesulitan berkomunikasi dengan pasien-pasien yang tua yang tak bisa berbahasa Indonesia.

Saya pun kemudian meminta ijin untuk mempersiapkan barang-barang untuk rumah dinas dan sekaligus merayakan Paskah sebelum memulai tugas di minggu berikutnya. Dan saat itu saya mulai mempelajari dan mencari tahu mengenai kecamatan saya. Dari peta baru saya sadari bahwa Menjalin adalah sebelah utara dari Kecamatan Toho, Kabupaten Pontianak yang terkenal dengan gua Maria-nya. Saya baru sadari juga bahwa kecamatan ini justru lebih dekat dengan Pontianak, dibandingkan Ngabang! Kecamatan ini dapat terjangkau dengan bus dalam provinsi dalam 2,5-3 jam dari Pontianak.

Menjalin adalah tempat yang cukup ideal buat saya. Terlalu ramai tidak, terlalu kecil tidak. Dengan jumlah 8 desa, penduduk 20.000-an, Kecamatan Menjalin adalah kecamatan terkecil kedua di Landak setelah Kecamatan Meranti. Di Menjalin pula menyimpan nilai tradisi Dayak Kanayatn yang kental dan pusat syiar agama Katolik. Nyaris 95 persen, menurut perkiraan saya, penduduk di sini beragama Kristen dengan denominasi mayoritasnya Katolik. Jadi, saya pun tak perlu bersusah payah mencari gereja untuk misa.

Belajar Bahasa

Di sini pula saya banyak belajar tentang bahasa setempat. Pada dasarnya, saya memang suka mempelajari bahasa. Dengan logat saya yang pas-pasan, tak jarang saya dianggap sebagai orang lokal. Walaupun demikian saya bersyukur, perbendaharaan bahasa saya pun semakin kaya. PTT ini membuat saya cukup dapat melakukan anamnesa dengan bahasa Dayak Kanayatn atau Ba'ahe ini, hingga saya dapat berkomunikasi dengan kawan-kawan dengan Ba'ahe. Sungguh, mempelajari kearifan lokal adalah suatu kebanggaan buat saya.

Penduduk

Hampir sebagian penduduk Menjalin bersuku Dayak Kanayatn, dengan sebagian kecil adalah Tionghoa, Melayu, dan Jawa. Di Menjalin ini mereka duduk berdampingan. Dan suatu ketakutan saya sebelum PTT adalah apakah saya dapat diterima masyarakat kelak? Saya sungguh bersyukur saya tak menemui masalah berarti ketika berelasi dengan penduduk dan staf Puskesmas. Di Puskesmas Menjalin ini, saya sendiri tak pernah konflik. Oleh staf Puskesmas, kami saling menghormati pekerjaan kami masing-masing. Saya bisa melakukan tugas medis saya sesuai dengan apa yang seharusnya. Tidak pernah saya merasa diperlakukan dengan tak hormat. Walaupun saya nakal, karena praktik tanpa jas snelli di Puskesmas, atau praktik dengan celana pendek di rumah dinas, saya tetap dapat dikenali sebagai "Pak Dokter".

Poli Umum dan Rawat Inap

Apa saja pekerjaan saya di Puskesmas? Yang jelas saya tidak memegang program khusus. Saya memegang tugas medis umum, poliklinik umum di rawat jalan, dan tugas medis di rawat inap. Terkadang saya pun ikut puskesmas keliling dan posyandu di desa-desa. Saya juga kasang-kadang mendapat tugas kunjungam ke rumah, karena masyarakat di sini masih terbiasa untuk didatangi oleh petugas.

Kursi Praktik saya di Poliklinik
Saya bersama Perawat Poli, Kak Nia dan Mak Dela

Ketika tengah tahun saya berjalan, Puskesmas Menjalin mendapat pergantian Kepala Puskesmas. Dr. Didy dari Puskesmas Karangan diangkat menjadi kepala puskesmas kami. Saya untungnya masih tetap diperkenankan menyelesaikan tugas saya di Menjalin sesuai dengan SK. Saya diminta untuk membenahi rawat inap oleh Dr. Didy. Hampir semua Puskesmas di Landak adalah Puskesmas perawatan kecuali di Ngabang, Sidas, Semata.

Memang, sebelumnya rawat inap Puskesmas tidak berjalan sebagaimana mestinya. Saat itu belum ada jadwal jaga yang bergantian, tidak ada pengelolaan alkes dan barang rawat inap, sehingga pasien masih do-re-mi dalam hitungan bulan. Jadi setiap ada tindakan malam, saya harus bersenter dulu untuk mencari barang, jika ada gawat darurat hanya dikerjakan oleh saya dan Bu Nia sebagai penghuni setia di kompleks Puskesmas.

Rawat Inap yang Dihidupkan
Pengaturan yang diharapkan optimal walau sederhana

Akhirnya saya pun memulai untuk merapikan jadwal dinas, merapikan alat-alat kesehatan, dispensing obat, dispensing alkes tambahan yang tidak diberi dinas tetapi diperlukan, mengelola ambulans, sampai mengelola keuangan rawat inap. Saya bersyukur dulu saya memahami sedikit soal manajemen ini dari apa yang saya lihat selama pendidikan di almamater saya, FK Atma Jaya. Saya menerapkan apa yang saya lihat. Dan perlahan-lahan, rawat inap ini hidup. Beberapa prosedur disesuaikan dengan rumah sakit, seperti cara kewaspadaan universal, pencatatan rekam medis (saya masih ingat dulu pasien pertama rawat inap saya, saya tuliskan di lembaran HVS!), pengaturan obat dan alkes, dan lainnya. Dan saya senang sekali, masyarakat mulai dapat menikmati hasil dari penghidupan kembali rawat inap ini yang siap sedia 24 jam. Apalagi pasien dari kecamatan tetangga, Kecamatan Toho, juga kian banyak, karena tidak adanya puskesmas perawatan dan belum adanya dokter yang tinggal di daerah setempat. Saya sungguh berharap, kelak rawat inap ini terus dapat berkembang dan maju sepeninggal saya.

Jalan-jalan ke desa
Plang Praktik Pribadi di Rumah Dinas

Keluarga

Ya, saya memiliki keluarga baru di Menjalin. Mulai dari staf-staf Puskesmas, dari yang tua sampai perawat magang yang lebih muda dari saya, kemudian keluarga Mak Uwi yang membuka warung di depan Puskesmas, pasien-pasien yang sering saya temui di Puskesmas maupun praktik pribadi. Sungguh banyak hal yang dibagi, bersenda gurau, selama 12 bulan ini. Hari-hari saya di Menjalin menjadi tak terasa dan dilewati dengan rasa senang. Suka dukanya begitu berkesan. Walaupun sebagai dokter umum di negeri ini banyak hal yang memusingkan kepala, namun saya merasa diperlakukan dengan baik sebagai dokter dan terutama sebagai diri saya sendiri di Menjalin ini.

Saya bersama Trio Macan (Eka, Nia, Ado), dan si kecil Cia

Suatu saat saya akan merindukan comblangan Pak Didy, tawa renyah Kak Osik dan Kak Hatenah, candaan sesama Sobat (baca: orang Tionghoa) dengan Kak Banyu, langganan kue Kak Sri, candaan dari Bang Martinus, panggilan "yukng" dari Bang Ryan, teriakan khas "Dokter Hauuu, ada pasien nih" dari Kak Dewi, dinas penuh tawa dari Trio Macan (Kak Nia, Kak Ado, Kak Eka), bercanda dengan Kak Emi, Kak Ola, Kak Rika, Kak Wila dan Kak Agnes, pertolongan tanpa pamrih saat padam lampu dari Bang Erick, perjalanan jauh merujuk pasien sampai berkantuk ria dengan Mas Pur, kiriman pasien aneh dari Takong dan teman jajan sore bersama Bang Agustinus serta Deckri, senandung melodi lagu lama dan teman misa dari Kak Nia (Karunia), petuah tak ternilai dari Mak Dela, suara khas Pak Mega, melihat nomor angkanya Om Saibu dan Bang Eko, "diskusi" dan petuah tiada ujung dengan Bang Ason, kalemnya Om Basri, mencicipi makanan Bu De Iin yang menjadi makanan sehari-hari selama PTT, langganan talok manok kampokng (telur ayam kampung) dari Bu Betty dari Sompak, es teh hangat dan indomie Mak Uwi, bermain dengan Cia dan Vino, anjingnya. Semua terangkai dalam memori saya selama di Menjalin. Ya, walapun mereka ada yang lebih muda dari saya, terutama yang perempuan saya kerap memanggil "Kak", kebiasaan saya sejak koas di Atma Jaya, tampaknya lebih nyaman untuk disapa.

Pengalaman Baru

Banyak hal baru yang saya dapatkan selama di Menjalin ini seperti mau tak mau menjemput pasien sendiri di tengah desa yang gelap, sendiri mengendarai ambulans yang kesulitan melewati jalan tanah yang becek, masuk ke desa sangat terpencil di Desa Re'es melewati jalan tikus, menikmati kebudayaan Dayak Kanayatn seperti dijamu saat Naik Dango, makan baconcok (semeja sekelompok) saat perkawinan staf, makan pulut, tumpi, lemang, dan bontokng. Saya pun dikenal sebagai dokter yang tak pandai bermotor, memang sungguh saya tak bisa menaiki motor. Dokter yang selalu membawa ambulans saat gereja, itulah saya.

Terus teramg saya sendiri hanya dua minggu sekali turun ke kota untuk menabung dan bertemu orang tua. Selebihnya saya sisakan hari-hari saya di Menjalin.

 

Dan kini saya memang tinggal menghitung hari di Menjalin, dan tetap saya berharap bahwa ini juga kelak ditutup dengan manis. Jarum jam pun terus berdetak.

 


Share/Bookmark

Kamis, 21 Maret 2013

Terlanjur

Tiada pernah ku bersangka

Tiada pernah ku berkhayal
Ketika perasaan anomali ini
Setiap jengkal kala aku rasakan

Ketika batas waktu telah berkelana
Ketika dunia telah berputar
Tetapi aku yakin akan sebuah yang tak berubah
Tak berubah rasaku padamu

Rintih tawa silih berganti
Ketika kejadian itu berlalu
Aku mencoba kerap menyangkal
Namun kusadari tak mampu

Aku sudah terlanjur sayang
Aku sudah terlanjur melawan
Aku ingin tidak terus dipertanyakan
Aku sudah terlanjur sayang

*Desa Galang, Bus Menjalin ke Pontianak. 15 Maret 2013, pk 13:45.
*Terinspirasi lirik Nathan Hartono - Terlanjur Sayang.

 


Share/Bookmark

Senin, 11 Maret 2013

Penerbangan Anda Dihentikan: Tidaaaaakkkkk

Pagi yang seharusnya cerah ini tiba-tiba seketika mendung. Ya, saya menerima e-mail ini:


Dear Valued Guest,

First and foremost, we would like to take this opportunity to thank you for choosing AirAsia Indonesia.

We deeply regret to inform you that your flight QZ 8234 from Jakarta (CGK) to Ho Chi Minh City (SGN) has been cancelled effective 15th April 2013.



Ya, seketika yang terlintas di pikiran saya adalah cercaan: "WTF!".

Saya berusaha merencanakan matang-matang perjalanan backpacking dengan ibu saya ke Vietnam dan Kamboja pasca purna-PTT. Saya sudah menghitung semua, hostel, jadwal perjalanan alias itinerary-nya.

Kini tiba-tiba "hancur berantakan". Saya langsung menelepon Call Center Air Asia.

Saya: "Penerbangannya di-cancel ya?"
Petugas: "Oh ya. Tapi manajemen kami masih mengonfirmasi. Bapak telepon lagi saja lusa (karena besok libur Nyepi-ed)."
Saya: (Well... Damn...)

Gimana rasanya kalau kita harus menunggu 2 hari mengetahui ini benar atau tidak. Tapi saya ragu karena e-mail jelas-jelas ada di tangan saya! Apa saya yang terlalu gesit responsif ya? Kok bisa-bisanya saya dapat jawaban begitu?

Saya pun melewati hari dengan tak tenang. Sampai malam ini, saya penasaran dan saya menelepon lagi mencari kepastian.

Saya: "Saya penumpang QZ 8234 yang katanya dicancel?"
Petugas: "Benar sekali Bapak."
Saya: "Jadi?"
Petugas: "Jadi apa?"
Saya: (Mulai senewen) "Ya gimana nasib tiket saya?"
Petugas: "Jadi pertama bisa dimajukan tanggal penerbangannya. Kedua, dengan credit shell. Ketiga dengan refund ke rekening."
Saya: "Dimundur tanggal 14 bisa?"
Petugas: "Rute Jakarta-Ho Chi Minh tidak setiap hari Bapak. Jadi 13 yang terdekat." (Damn! 6 hari di Ho Chi Minh, serius lu?)
Saya: "Yang kedua?"
Petugas: "Itu jadi kredit di web Air Asia dan berlaku 180 hari selebihnya hangus. (Apa uang saya mau dihanguskan? - Mulai snewen). Yang ketiga direfund 30 hari kerja ke rekening Bapak. Itu juga dihitung dari transfer staf ke Bank, bukan tanggal melapor."
Saya: (Gila aja, kalau duit gw 30 hari plus plus... Kalau stafnya malas gimana, bisa bertahun-tahun.)

Saya pun akhirnya memilih opsi 2 dengan mempertimbangkan mungkin saya memilih reroute sendiri CGK-KUL-SGN dalam 2 tiket terpisah. Saya harus berputar-putar di KL LCCT kelak.

Saya amat menyayangkan dari ketiga opsi yang ada tak ada yang dirasakan membantu penumpang sama sekali. Paling nyaman adalah membantu reroute seperti di atas, karena Air Asia memiliki jaringan dan frekuensi tinggi antara CGK-KUL dan KUL-SGN. Saya terpaksa jadi mengulang dari awal. Sungguh terlalu!

Memang, saya sungguh mau tak mau menggunakan Air Asia karena memang paling murah pada rute CGK-SGN bahkan dibanding Lion Air, apalagi Vietnam Airlines. Hingga berkali-kali lipat.

Saya sendiri belajar berbesar hati. Toh ini suka dukanya backpacking bukan? Kita harus berpikir, tiada rotan akarpun jadi. Penerbangan ditundakan, cari sampai jadi.

Sungguh letihnya... Dan kini saya menunggu masuknya angka kredit shell saya di web Air Asia.

 


Share/Bookmark

Kisah Saya, Tenaga Medis di Indonesia

Mungkin judul di atas terlalu bernada sedikit angkuh. Tapi hal ini yang sekelebat saya teriakkan di dalam hati saya. Apa salah saya sebagai tenaga medis di negeri ini?

Di negeri ini, dokterlah sebagai tameng, dan katanya akan dipecat karena dianggap "menolak" pasien karena ruangan penuh. Menjadi salah kami kah ketika ruangan penuh sesak pasien? Saya sendiri seumur hidup saya menjadi dokter di tempat saya belajar dan sampai di tempat saya bekerja sekarang, saya tidak pernah melihat instansi saya bahkan sejawat saya menolak pasien. Menolak pasien di sini berarti kami tak mau merawat pasien dan membiarkan pasien. Tidak pernah! Saya tetap melaksanakan seoptimal dan semaksimal yang kami bisa. Walaupun pada akhirnya pasien tak mau dirujuk, kami juga memberikan pelayanan semaksimal kami yang kami mampu.

Di negeri ini, dokterlah yang sering diketuk pintunya atau berdering teleponnya dengan keadaan apapun. Mau sedang makan, sedang tidur, sedang bermain dengan anak. Kami tidak bisa bilang: "Oh ini waktunya saya di rumah, maaf jangan ganggu saya." Dokter bekerja 24/7, lembur yang tak terkira. Bahkan ketika keluarga tidur, anda tidur nyenyak, kami masih bekerja.

Di negeri ini, dokter memeriksa laboratorium sudah disangka ingin mengambil untung dan komisi. Duh! Parahal pemeriksaan penunjang adalah salah satu bagian dari penegakkan diagnosis. Tentunya kami pun sudah memikirkan apa-apa saja yang perlu diperiksa. Namun ketika pasien kita berobat ke rumah sakit di luar negeri dan diperiksa A sampai Z, pasien diam tanpa kata protes. Sedangkan ketika kami mau memeriksa darah rutin saja untuk pasien demam, sudah disangka ingin mengutip tilang lalu masuk ke kocek sendiri dan dianggap lebih jahat dari Polantas oleh salah satu anggota dewan.

Di negeri ini, ketika bayi prematur sekian ratus gram meninggal, ini salah dokter! Dokter harus dituntut sampai ke liang kubur. Tapi ketika pasien diabetes berobat ke klinik-klinik alternatif, menggelotorkan jutaan rupiah untuk "herbal-herbal", dan akhirnya meninggal karena ketidakstabilnya glukosa darahnya. Seringkah terdengar klinik alternatif itu dituntut?

Di negeri ini, dokter (terutama dokter umum) dianggap merampok uang pasien. Tapi tak pernahkah terpikirkan betapa dokter umum membanting tulang kerja di klinik 24 jam? Tak pernahkah terpikir kami dokter umum di daerah terpencil di seluruh Indonesia ini pernah 3 bulan bergaji kurang dari sepertiga hak kami? Sedangkan kami tetap harus bertahan hidup di pedalaman negeri ini?

Di negeri ini, terutama daerah terpencil, kami sudah terbiasa dihutangi pasien. Tapi kami tak pernah menaruh dendam dengan mereka. Walaupun mereka lagi, kami tetap layani. Kami hanya berpegang pada kemanusiaan.

Di negeri ini, kami menjadi makanan jurnalis. Sedikit berita kami menjadi bombastis. Dan entah langsung talkshow atau berita apapun menjadi primadona di layar kaca. Dan kami dicecar. Kami dianggap malpraktik, kami dianggap jahat, dianggap tak berhati. Pernahkah kalian berpikir sebaliknya, apakah yang dilakukan media massa ini berhati atau mencari sensasi? Ke mana aturan emas pergi?

Ya itu keluh kesah. Tapi kami tak pantas berkeluh kesah dalam kerja dan karya kami. Itu semua kebanyakan kami simpan dan tetap lanjut berkarya. Walaupun hati ini pun terasa teriris pedih.

 


Share/Bookmark

Rabu, 06 Maret 2013

Pertanyaan "Sepele" Kepada Pasien

Suatu hal yang masih saya ingat dan tidak lupa saya lakukan saat melakukan anamnesis atau visite adalah sedikit berbasa-basi dengan pasien. Mungkin ini bukan basa-basi biasa.


Perihal saya dapat dari salah satu guru saya saat di Fakultas Kedokteran UNIKA Atma Jaya. Ya, tiga atau empat tahun yang lampau. Saat itu saya tengah ronde pagi (keliling memeriksa dan melaporkan keadaan pasien) bersama dr. Iwan Irawan, SpB. Kami di Atma Jaya sudah bak residen (peserta didik dokter spesialis). Semua harus detail kami perhatikan. Suatu saat itu, saya sudah hapal luar kepala apa yang perlu saya laporkan dari keluhan pasien, hasil pemeriksaan, diagnosis, dan rencana tatalaksana yang diusulkan untuk disetujui (SOAP, kami menyebutnya). Di satu titik saya tiba-tiba ditembak oleh konsulen, "Di mana Bapak ini tinggal?" Saya pun mulai buyar. "Ia berapa bersaudara?" Nah lo, pikir saya dalam hati. "Ini perlu kamu tahu, supaya memungkinkan tidak dia konsultasi lanjut, yang mengantarnya, dan lainnya... Lalu kemudian kemarin dia bisa tidur atau tidak?"

Mungkin saat itu saya berpikir, hal itu sepele. "Untuk apa sih saya perlu tahu hal itu? Apa mungkin kelak saya perlu tahu zodiaknya apa?" Tapi pada akhirnya keluh kesah ini menjadi makna pada kemudian hari.

Ya, tampak sepele. Tapi itu memiliki banyak makna.

Pertama, seperti yang ditekankan alm Prof Sidharta dalam bukunya dan alm dr. AJ Gozali SpPD waktu dulu mengajar. Anamnesa atau wawancara pasien itu penting. Konon 70-80% diagnosis akan tegak. Jadi, kita harus banyak bertanya pada pasien. Tapi apa hubungannya kelak dengan pertanyaan "sepele" itu? Ya, kita bisa akan banyak tahu soal kebiasaan atau sedentary lifestyle yang bisa memicu gangguan kesehatannya.

Kemudian kita bisa memperkirakan bagaimana tatalaksana lanjut pasien. Seperti saya di Menjalin, banyak desa-desa sangat terpencil. Maka kira-kira kita dapat tahu bagaimana mengedukasi atau berpesan pada pasien, walau memang realisasinya pun dipertanyakan. Namun kita telah melakukan hal yang seharusnya.

Kedua, ini bisa membangun relasi dengan pasien. Salah satu kawan saya, Ricky, mengatakan demikian, "Itu menambah kepercayaan pasien terhadap kita dan pasien serta keluarganya jadi merasa diperhatikan banget."

Ya, banyak keluarga yang senang ditanya dimana, bagaimana dirinya. Apalagi pasien lansia yang ditanya berapa cucu dan cicitnya. Mereka senang sekali, walau mereka tengah terbaring lemah.

Saya pun sering juga visite sambil sedikit bergurau agar suasana menjadi lebih cair antara dokter dan pasien. Dan pertanyaan-pertanyaan sepele itu pun membuat suatu cerita yang bisa diperbincangkan antara pasien dan dokter. Apalagi di desa, bisa terkuak gosip-gosip desa (loh?). Hehehe...

Memang walau demikian saya menyadari tidak semua hal kepada pasien ini saya terapkan kepada keluarga atau rekan saya diluar relasi pasien. Tapi entah kenapa saya lebih selesa jika melakukannya bersama pasien. Entahlah... (Jadi curcol? :p)

 


Share/Bookmark

Sabtu, 02 Maret 2013

Kehadiranmu

Hanya satu harapku kini

Harapku akan kehadiranmu

Hadirmu untuk bantu menyekaku
Seka peluh dan air mata pikiranku

Pikiranku yang melayang jauh
Jauh terbang tak berarah

Kemana arah jalanku kini
Walau kini aku bak benang kusut

Kekusutan ini memerlukan tanganmu
Tanganmu yang mengurai lembut

Mengurai dan meredam segala kebingunganku
Meredam segala amarah dan pelikku

Walau hidup ini tak mungkin tak pelik dan kusam
Namun kusam ini patutlah tercerah akan harapku

Hanya satu harapku kini
Harapku akan kehadiranmu

Dalam perjalanan ke Menjalin,
26 Februari 2013

 


Share/Bookmark

Kamis, 21 Februari 2013

Hibah NICU ke Puskesmas? Pleaseee Jangan Bercanda Wanda Hamidah

Entah kenapa, akhir-akhir ini banyak sekali isu kesehatan di negeri ini. Setelah kemarin masalah Dera, kini saya membuka website portal berita muncul berita Upik. Kedua-duanya lagi-lagi masih menyoal NICU, Neonatal Intensive Care Unit, atau Unit Perawatan Intensif Neonatus. Thanks to internet, saya di pedalaman Kalimantan ini masih bisa menyimak hal yang hangat di negeri ini.

Salah satu hal yang unik-menggelitik, ketika saya membaca komen salah satu teman si jejaring sosial Facebook, bahwa ada anggota dewan yang meminta Puskesmas untuk diberi fasilitas NICU. Saya pun heran setengah mati dan mencari link tersebut. Dengan memasukkan kata kunci "NICU Puskesmas" langsung muncullah tautan dan nama yang sudah sering muncul beberapa minggu belakangan ini, Wanda Hamidah, anggota DPRD DKI Jakarta.

Gambar: Kompas.com

Berikut isi berita lengkapnya, bersumber dari Kompas.com.

Wanda Minta Pemprov Hibahkan NICU ke Puskesmas

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DKI Komisi E, Wanda Hamidah, mengharapkan Pemprov DKI dapat memberi hibah ruang Neonatal Intensive Care Unit (NICU) kepada 44 puskesmas yang ada di Ibu Kota. Langkah ini diharapkan dapat mengantisipasi terulangnya insiden serupa kematian bayi Dera Nur Anggraini.

"Aturannya saat ini juga masih ditelaah, hibah ke swasta untuk masyarakat. Semuanya bisa dilaksanakan asal tepat sasaran," kata Wanda, di Gedung DPRD Jakarta, Selasa (19/2/2013). Wanda menjelaskan harga sebuah ruang NICU sekitar Rp 2 miliar. Bila ada hibah untuk 44 puskesmas, maka butuh dana Rp 88 miliar. Menurut dia angka tersebut tidaklah besar bila dibandingkan dengan APBD DKI Jakarta yang mencapai Rp 49,9 triliun.

"Saya kira mudah ya bagi Pemprov untuk menanggulangi permasalahan ruang NICU tersebut," kata Wanda yang juga menjadi Ketua Advokasi Komnas Perlindungan Anak. Ia juga mengharapkan Pemprov DKI segera menambah ruang rawat inap kelas III di setiap RS, khususnya RSUD kepemilikan Pemprov.

Penambahan ruang dan fasilitas pendukung lainnya, lanjut Wanda, juga harus diiringi dengan peningkatan kualitas layanan, jumlah tenaga medis, ataupun dokter spesialis. "Jumlah bednya juga harus ditambah, misalnya saja dari 400 menjadi 700 bed. Dokter spesialis juga harus ditambah karena tak jarang ada dokter spesialis jantung, yang idealnya dalam sehari menangani 8 pasien, tapi saat ini menangani 30 pasien," katanya.

Wanda pun mengimbau RSUD segera merujuk ke rumah sakit swasta yang memiliki peralatan lebih lengkap bila peralatan yang dimiliki diperkirakan tak bisa memberikan layanan optimal untuk pasien. "Berkaca dari kasus Dera, RSUD jangan ragu memberikan rujukan kalau memang tidak bisa melayani maksimal. Masalah nyawa tidak boleh dipermainkan," ujar Wanda.

Tanggapan saya: Wanda Hamidah kelihatannya amat reaktif dan cenderung konten kata-katanya korsleting. Kenapa saya katakan demikian, karena ia sungguh tidak memahami sistem kesehatan nasional kita. Mungkin terdengar sangat wah dan membesarkan harapan warga Jakarta. Bagaimana tidak, bakal banyak NICU di radius terdekat dari rumah karena tersebar di sebagian Puskesmas.

Tapi Wanda tidak tahu bahwa esensi Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan primer. Saya tegaskan lagi, primer. Sedangkan NICU dari artinya saja, sudah bukan lagi keadaan kesehatan primer. Ini sudah level rujukan sekunder yang perlu penanganan intensif.

Puskesmas adalah pusat dari program-program yang sebenarnya lebih ditekankan ke arah promotif dan preventif, dan kemudian ke kuratif dan preventif tingkat dasar misalnya imunisasi, pemberantasan malaria, masalah gizi, membantu memfasilitasi Posyandu, UKS, Kespro, higiene dan sanitasi, koordinasi masalah kesehatan di lintas sektoral, kaderisasi masyarakat, surveilans, dan lainnya. Bidang Yankes atau poliklinik rawat jalan hanyalah satu dari puluhan program Puskesmas. Lalu, Pada beberapa Puskesmas kemudian dibuat sebagai Puskesmas Rawat Inap untuk memberi tindakan yang memerlukan opname, tetapi lagi-lagi adalah tingkat primer, karena rujukan rumah sakit masih dirasa agak/terlalu jauh atau sedikit jumlah tempat tidurnya. Jadi tentu tidak nyambung kalau dipasangkan fasilitas perawatan intensif di Puskesmas.

Menurut saya, justru yang diperlukan oleh DKI Jakarta adalah sentral komunikasi antar rumah sakit serta akses transportasi atau ambulasi pasien. Semua data menjadi terhubung sehingga mampu berbagi informasi tentang kemampuan dan ketersediaan layanan rumah sakit. Hal ini untuk membantu pasien mendapatkan akses layanan yang cepat dan akurat.

Demikian juga kalau berbicara soal jumlah dokter spesialis. Jangan hanya bercuap-cuap ayo naikkan, ayo perbanyak. Tetapi, risetlah dulu, tinjau dulu, apa yang terjadi dengan sistem pendidikan dokter spesialis yang ada. Jangan ajak kami bercanda dulu, Bu Wanda.

 


Share/Bookmark

Rabu, 20 Februari 2013

Untuk Pak Ahok: Jangan Kejar Dokter, Tetapi Kejar Oknumnya

Ahok: Kalau Dokter Tidak Mau Tolong Orang Miskin, Kami Kejar Anda!

"Bagi saya yang penting nyawanya kita tolong. Saya bilang sederhana saja, rumah sakit tidak perlu bayar, kan bisa hidup karena APBD. Kelas III saja anda urus. Di kelas I dan kelas II silahkan cari untung.

Kalau kelas III Anda masih peras uang rakyat, saya sudah kerjasama sama orang Pajak. Dokter paling takut sama orang Pajak. Kalau kami ditagih terlalu mahal dan rumah sakit tidak bisa buktikan, kami akan kejar Anda, kerjasama PPATK. Jadi tahu persis transaksi Anda. Saya akan tagih pajak Anda. Saya hanya minta Anda bayar. Saya tahu mobil, listrik, rumah yang Anda bayar. Kalau nggak mau kerjasama dengan kami menolong orang miskin, kami akan kejar Anda!," tegas Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat berbicara tentang Kartu Jakarta Sehat di depan para dokter di RSUP Husada, Jl Raya Mangga Besar. (detik)

Saya dikirimkan sebuah pesan dari sejawat saya sesama Dokter PTT, ia mengirimkan satu tautan dari Facebook yang berisikan foto dan berita dari akun Partai Gerindra seperti yang tersebut di atas. Saya sebagai Dokter dan fans Jokowi-Ahok merasa perlu untuk berkomentar.


Di sana dituliskan bahwa Pak Ahok berkata: "Kalau kelas III Anda masih peras uang rakyat, saya sudah kerjasama orang Pajak. Dokter paling takut sama orang Pajak..dst...Kalau nggak mau kerjasama dengan kami menolong orang miskin, kami akan kejar Anda."

Dokter dan Pajak

Saya rasa keliru untuk mengatakan bahwa Dokter paling takut sama orang Pajak. Di sini diberi kesan secara implisit bahwa "Dokter menggelapkan pajak." Menurut saya penggunaan kata "Dokter" keliru. Apakah IDI atau profesi ini ada menganjurkan untuk menggelapkan pajak? Tidak ada. Apakah dalam fakultas kedokteran ada dikatakan demikian? Tidak ada. Apakah "Dokter" (baca: Profesi Dokter) yang melakukan ini? Bukan! Jadi, bukanlah "Dokter" di sini. Yang bermain di sini adalah oknum-oknum yang ada. Tidak bijak menggunakan frase pars pro toto, sebagian untuk seluruhnya.

Jadi saya tidak rela, profesi saya disebut penggelap pajak. Jika ada yang berlaku demikian, kejar mereka. Jangan kejar profesi dokter.

Dokter dan Orang Miskin

Jelas sejelas-jelasnya, bahwa dokter tidak boleh memandang sosioekonomi dalam menolong. Kami bukan pedagang yang tak ada uang tak ada barang. Dalam lafal Sumpah Dokter Indonesia jelas: "Kesehatan penderita senantiasa akan saya utamakan."

Tetapi perlu diketahui, Dokter bukan dewa. Dokter akan bekerja keras sekuat tenaga demi pasien, sesuai dengan sarana dan fasilitas yang ada. Saya di desa, juga mengobati semua orang dengan prasarana dan sarana semampu kami. Jika ada yang sanggup membayar jasa, ya saya mendapatnya. Menerima imbalan atas jasa yang layak sesuai dengan jasa adalah hak bagi setiap pemberi jasa, termasuk Dokter. Tetapi pertolongan dokter terutama didasarkan pada perikemanusiaan. Di sinilah poinnya.

Namun, Saya dan tenaga kesehatan di desa saya (termasuk bidan) sendiri juga seringkali tidak dibayar oleh pasien, terutama pasien kecelakaan atau pasien mabuk setelah semalam suntuk menjahit luka. Apakah saya atau kami ini menuntut ke polisi karena saya tak dibayar? Secara hati nurani saya, tidak. Saya merasa tidak patut. Saya telah menjalankan kewajiban saya walau hak saya tertinggal. Tetapi ketika keadaan berbalik, kami dianggap tidak pro orang miskin, tentu saya pun kecewa.

Dan juga dokter juga wajib merujuk pasien bila diluar kemampuannya. Misalnya pada kasus yang tak bisa ditangani, bukannya ini dokter menolak pasien. Namun celaka tiga belas, jika pasien tersebut kebetulan miskin dan menjadi makanan media massa. Dokter menjadi sasaran empuk. Kata "merujuk" berpeyorasi menjadi "menolak". Sungguh suatu hal yang keliru.

Tetap Harus Netral

Tak ditampik, dokter saat ini mudah terjerumus dan dijerumuskan. Media massa dengan mudahnya membumbung tinggikan berita tentang dokter. Lihat saja kasus Dera, yang akhirnya ke KJS, dan akhirnya merembet ke pengejaran Dokter atas penggelapan pajak. Ya, sekali lagi profesi ini empuk untuk disasari.

Namun, kita pun perlu memandang dengan kedua belah mata. Sisi baik dari suatu profesi. Tidak semua dokter demikian. Katakan yang baik pada yang oknum yang baik. Katakan yang buruk pada oknum yang buruk. Tapi jangan buruk muka cermin dibelah, jangan salahkan sisi sang profesi yang tidak tahu-menahu.

 

 


Share/Bookmark

Hormati Surat Keterangan Sakit

Hari ini saya punya pengalaman yang cukup unik di Puskesmas, ketika seorang pria dewasa muda dan dengan penampakan sehat datang ke poliklinik Puskesmas dan berkata, "Dok saya ingin meminta surat keterangan sakit." "Siapa yang sakit?",tanya saya. "Saya." Saya langsung sedikit ragu dengan insting saya.

Dengan beberapa pembicaraan dia mengatakan bahwa dia demam kemarin dan ingin meminta surat keterangan sakit untuk ijin ke kantornya dengan alasan gaji bisa dipotong dan absensi terhitung alpa. Namun saya periksa saat ini baik-baik saja.

Terus terang, saya menolak. Pertama, saya tidak memeriksa dia saat sakit karena saya yang akan menandatanganinya. Kedua, saat ini sudah tidak sakit dan ia meminta surat dengan tanggal ke belakang, bukan tanggal hari ini.

Saya pun meminta maaf. Dia pun kemudian berkilah bahwa dulu-dulu toh bisa. Saya pun mengatakan, yang menandatangani adalah saya sekarang ini. Saya yang bertanggung jawab atas surat ini kelak.

Sampai suatu ketika tercetus katanya, "Dok saya minta capnya saja dan tak perlu tulis nama dokter." Saya dan Bu Yones, perawat di poliklinik pun emosi seketika. Saya mengatakan, saya tidak bisa dan tak mau ambil risiko karena semua ini kelak mambawa-bawa nama institusi Puskesmas kami yang tertera di kop. "Kok sekarang dipersulit sih." Saya menjawab, "Saya tak mempersulit Anda. Jika Anda periksa saat sakit pun surat bisa keluar kok." Walaupun dalam diri saya pun masih menyimpan ragu apa benar ia sakit.

Surat keterangan sakit sering dipandang sebelah mata walau nilai kepentingannya tinggi. Hal inilah yang sering disalahgunakan. Surat ini seringkali menjadi kartu sakti, dan alasan sakit menjadi alasan untuk membolos kerja, sampai menghindari diri dari pengadilan. Sungguh ia berkekuatan hukum! Makanya, saya tak pernah mau main-main soal surat ini. Apalagi surat ini sering diperjualbelikan di forum-forum di internet.

Sampai pasien itu berkata, "Di tempat lain kok bisa. Di sini tidak bisa?" Saya hanya menjawab, "Jika anda merasa di tempat lain bisa mengeluarkannya, silakan ke sana. Jangan ke kami. Ini aturan kami di sini."

 

Sungguh menyedihkan kalau melihat masyarakat masih memandang surat ini sebelah mata, dan mengira setiap diminta bisa langsung diberikan atau diperjualbelikan... Jika Anda merasa sakit dan merasa perlu keadaan ini dinilai oleh profesional medis atau tenaga kesehatan untuk dibuatkan surat keterangan, maka periksakan dengan segera. Jangan menunggu berlama-lama.

 


Share/Bookmark

Sabtu, 16 Februari 2013

Sentuhan Humanis Dokter yang Kian Terkikis

Dokter terlalu percaya dengan teknologi. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sangat penting terabaikan dokter. (Menjadi Pasien Cerdas - dr. JB Suharjo B Cahyono, SpPD, hal 103)

Ketika saya membaca dua kalimat di atas, saya merasa terpukul. Terpukul untuk kembali membuka hati saya, dan merenungkan satu setengah tahun rekam jejak saya sebagai dokter. Apakah saya demikian?

Dalam beberapa paragraf sebelum kalimat tersebut, penulis buku tersebut menceritakan suatu bias dalam praktik kedokteran modern. Para dokter lebih tertarik pada teknologi dibandingkan diri pasien. Hubungan relasi pasien dan dokter kian menjauh. Beberapa dokter bahkan dokter spesialis dapat mengalami degradasi dalam keterampilan klinis karena sudah terlanjur adiksi dengan teknologi.

Saya mencoba membuka hati saya. Bagaimana dengan selama ini saya berpraktik di desa Menjalin ini. Saya akui bahwa saya pernah seperti kalimat itu. Misalnya pasien dengan menggigil dan demam sekian hari, saya rujukkan ke bagian laboratorium puskesmas untuk pemeriksaan darah tebal untuk mencari parait malaria. Atau kalau saya di kota, mungkin saya sudah mengambil lembar permintaan pemeriksaan dan mencentang hematologi lengkap, serologi dengue, dan serologi typhoid.

Ini tampak seperti suatu "otomatisasi" atas suatu "adiksi". Saya masih ingat kata-kata almarhum dr. AJ Gozali, SpPD bahwa 80 sampai 85 persen dari diagnosis sudah ada di anamnesis. Sisanya adalah pemeriksaan fisik dan sebagian kecil pemeriksaan penunjang.

Ya, sebagian besar petunjuk diagnosis ada di cerita dan keluh kesah pasien. Namun sudahkah saya menghabiskan waktu saya yang lebih untuk mendengarnya? Sudahkah saya memberi sentuhan manusiawi kepada pasien, bukan semata-mata menusukkan jarum lancet untuk pemeriksaan darah? Saya lagi-lagi teringat kata-kata guru saya dr.Jimmy Barus SpS, "Habiskan lebih banyak waktu di samping pasien." Ya, inilah sirat maknanya.

Sebuah kata-kata sindiran dari Dr Mimi Guarneri di "The Heart Speaks", "Beberapa Dokter modern memiliki mental montir dengan menganggap tugas mereka adalah menemukan masalah secepat mungkin dan segera memperbaikinya, dan bukannya membangun hubungan jangka panjang."

Jangan sampai kita membuat sentuhan manusiawi akhirnya terkikis habis oleh teknologi. Jangan sampai pada akhirnya kita hanya menangisi sebuah ironi. Saya pun bersimpulan untuk kian giat mendengarkan keluh kesah pasien dan memberikan sentuhan humanis kita. Kalau kita menjadi pasien, bukankah demikian pula yang kita inginkan. Aturan emas terjadi.

 


Share/Bookmark

Saya Fans Jokowi-Ahok

Ya, saya adalah termasuk orang yang dulu hingar bingar dengan Pemilukada DKI Jakarta 2012. Walaupun saya bertugas di Menjalin, Kalimantan Barat, saya masih bisa mengikuti berita tentang cagub dan cawagub pilihan saya melalui internet.


Ya, saya adalah fans Jokowi-Ahok. Pertama saya melihat mereka memiliki prestasi yang luar biasa di jabatan terdahulu mereka. Kedua, saya ingin penyegaran. Dan ternyata semua tak hanya omong kosong belaka.

Setelah pelantikan mereka, saya termasuk rajin menyambangi video-video unggahan PemprovDKI. Di sini saya mendapat sesuatu yang luar biasa. Suatu keberanian yang sudah lama terkubur, suatu idealisme cita-cita yang dulu tampak mustahil kini bangkit kembali.

Saya merasakan aura Sukarno. Dulu konon pidato dan perkataan Sukarno amat ditunggu dan didamba rakyat. Kini semua terbaharui dalam diri Jokowi-Ahok.

Setiap menonton video ini saya merasakan mendapat sesuatu baru yang seharusnya terjadi pada pemerintahan tata kota. Dan dalam video ini pula saya menyegarkan inspirasi bahwa kita bekerja untuk melayani. Ahok mengingatkan bahwa sekaya-kayanya orang tidak ada batasan puas, kecuali kalau pikiran sudah diatur dengan label "melayani".

Dengan Jokowi-Ahok kita diingatkan juga untuk memanusiakan manusia dengan segala kemampuan kita dan lobi-lobi kita. Semua pasti ada jalan keluarnya untuk mengatasi masalah tanpa menginjak-injak harkat dan martabat manusia.

Dengan kecerdasan Jokowi dan Ahok kita diingatkan lagi dengan segala sesuatu yang seharusnya terjadi dan yang tertulis dalam keilmuan dan teks akademik. Tidak ada lagi main mata, menilap uang, dan menjilat sana-sini. Semua adalah hal yang seharusnya terjadi.

Dan kita siap untuk Jakarta Baru.

 


Share/Bookmark